NUSANTARAVERSE | BRIEF PAGI | 14 Oktober 2026
Bahasa yang Hidup dalam Suara Anak-Anak
Dari Festival Tunas Bahasa Ibu di Jawa Tengah, sebuah cerita tentang bahasa daerah yang terus digunakan generasi muda.

Berita dan fakta terverifikasi
Sebanyak 490 siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026, yang berlangsung pada 9–11 Oktober di Kabupaten Semarang.
Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, festival tersebut diikuti 560 peserta, termasuk 70 pendamping dari 35 kabupaten dan kota.
Anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan berbahasa dan bersastra Jawa, antara lain mendongeng, membaca puisi, menulis, menyampaikan pidato, serta menampilkan kesenian dan keterampilan berbahasa.
Kegiatan itu menjadi salah satu upaya memperkenalkan dan mengembangkan penggunaan bahasa daerah pada generasi muda.
Konteks kehidupan
Bahasa daerah tidak hanya ditemukan dalam buku pelajaran atau pertunjukan kebudayaan.
Ia dapat hadir dalam percakapan keluarga, sapaan tetangga, cerita orang tua, permainan anak-anak, dan hubungan sosial di lingkungan masyarakat.
Di sisi lain, kehidupan modern mempertemukan manusia dengan lebih banyak bahasa melalui sekolah, pekerjaan, teknologi, dan pergaulan.
Bahasa Indonesia mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah. Bahasa daerah tetap memiliki tempat dalam pengalaman hidup komunitas yang menggunakannya.
Refleksi Pagi | Editorial, bukan berita
Seorang anak belajar berbicara dari suara-suara yang dikenalnya.
Mungkin dari ibu atau ayah yang memanggil namanya. Mungkin dari kakek dan nenek yang bercerita. Mungkin dari teman bermain di lingkungan rumah.
Bahasa tumbuh bersama pengalaman itu.
Kemudian anak bersekolah, berkenalan dengan orang dari daerah lain, dan menemukan semakin banyak cara untuk menyampaikan pikiran.
Sebagian terus memakai bahasa daerahnya. Sebagian lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Ada pula yang tumbuh dengan beberapa bahasa sekaligus.
Kehidupan masyarakat terus berubah, begitu juga kebiasaan berbahasanya.
Dalam festival, anak-anak mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuan dan keberanian menggunakan bahasa Jawa. Sesudah festival berakhir, mereka kembali ke rumah dan sekolah, melanjutkan percakapan dengan orang-orang di sekitarnya.
Di situlah bahasa menjalani kehidupan sehari-harinya: dipakai untuk bertanya, bercerita, belajar, bercanda, dan saling memahami.
Bahasa tetap hidup selama ada manusia yang menggunakannya dalam kehidupan yang terus berjalan.
NUSANTARAVERSE | Refleksi Kehidupan
Clear · Grounded · Related · Human Dignity First · Supported by YDBN
Sumber dan tanggal
Kemendikdasmen, 12 Oktober 2026: Bahasa Jawa Harus Tetap Hidup
ANTARA, 12 Oktober 2026: 490 siswa ikut melestarikan bahasa Jawa
Fakta berita, konteks, dan refleksi editorial disajikan secara terpisah.